Edy Syafwannur Tutup MTQ Maulid Al- Habsyi Tembilahan Hulu

http://www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Setelah berlangsung selama sepekan, bertempat di Majelis Taklim Miftahus Shaadah Jalan Sederhana Kecamatan Tembilahan Hulu berlangsung penutupan Musabaqah Maulid Al-Habsy dan Asmaul Husna, Kamis, (13/7) dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1432 Hijriah, Milad Kabupaten Inhil ke 42, sekaligus HUT Majelis Miftahus Shaadah.

Dalam acara tersebut nampak hadir Kepala BPMPD Edy Syafwannur Camat Tembilahan HM Yusuf Magga, tokoh Masyarakat seperti Mukhlis A Hamid mantan anggota DPRD Inhil periode 2004- 2009, para undangan dan seluruh para peserta yang mengikuti kegiatan MTQ Dan Asmaul Husna kali ini.

Ketua Panitia penyelenggara, Hj Laila Syamsudin Uti dalam laporannya mengungkapkan, ucapan terimaksih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak, dewan juri atas parsipasi, baik materi maupun sumbangan pemikiran sehingga acara ini bisa berjalan sesuai dengan harapan

Ucapan terimaksih kepada para pesrta sebanyak 26 kelompok untuk kategori Maulid Alhabsi dan 16 kelompok untuk kategori Asam ul Husna. “Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka syiar Islam di Kecamatan Tembilahan Hulu. untuk itu kepada para peserta baik yang berhasil maupun yang gagal untuk dapat lebih meningkatkan kemampuan, sehingga syiar Islam dapat lebih berkembang,” ujarnya.

Sementara itu Camat Tembilahan Hulu Drs HM Yusuf Magga dalam sambutannya menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak atas terselenggaranya kegiatan ini. Acara ini hendaknya memberikan kesjukan di hati kita semua.

Selanjutnya, Camat mengharap iven seperti ini dapat ditingkat lebih besar lagi, sehingga bisa menjadi benteng di tengah masyarakat dalam rangka mencegah pengaruh negatif dari kemajuan. “Acara seperti ini hendaknya menjadi benteng dalam memperkuat aqidah umat Islam,” tegasnya.

Masih menurut, masih banyak lagi kegitan Islami yang bisa dilaksanakan. lebih dari itu kegitan ini tidak hanya berlangsung di Kecamatan Tembilahan Hulu, tapi bisa menyebar kesluruh wilayah Di Inhil. Sehingga syiar Islam makin berkembang, agar berbagai permaslahan sosial dapat ditangkal di tengah masyarakat.

Sementara itu Edy Syafwannur Kepla BPMPD sekaligus pembina dalam sambutannya mengatakan, dirinya merasa takjub kepada panitia atas terselenggaranya kegiatan ini. apalagi panitia pulang sampai jam 2.00 dinihari. “Semoga semangat ini bukan hanya dalam MTQ tapi terus dipelihara dalam rangka syiar Islam,” katanya.

Selain itu, ia meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing dengan berbagai isu yang menyesatkan. Salah satunya dengan berdaran selebaran yang menghujat Agama Islam oleh orang yang tidak bertanggungjawab. “Kita bersukur masyarakat kita tidak terpancing, hingga tujuan selebaran yang beredar untuk memncing perpecahan ditengah masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, ia merasa terharu dengan anak-anak yang melantunkan bacaan Al-Habsyi. Untuk itu diharapkan kepada orang tua untuk mengajar anak-anak mereka untuk bacaan seperti itu, meski pada awalnya kesannya pemaksaan. Karena ia pernah mendengar sesuatu itu awalnya memang terkesan pemaksaan, hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Apabila sudah menjadi Kebiasaan, nantinya akan menjadi kebudayaan.

“Saya berharap nantinya Maulid Al-habsyi bisa menjadi ujung tombak dalam memperkenal Inhil, sehingga apa bila orang menyebut Inhil, maka yang teringat kepada mereka adalah Maulid Al-Habsyi,” harapnya.

Adapun pesrta yang mendapat prestasi terbaik untuk cabang MTQ Maulid Al-Habsyi dalam tahun ini, terbaik adalah, dimulai dari harapan tiga kelompok Darul Rahman, diikuti kelompok Nurul Huda serta Azzakirat. Sementara untuk peringkat tiga adalah kelompok Al -Hidayah, kemudian Al- Muhajirin dan peringkat terbaik dari kelompok Miftahus Saadah.

Sementara itu untuk kategori Asmaul Husna juara harapan tiga adalah kelompok Al- Hidayah, disusul kelompok Nurul Hikmah,serta Miftahus Saadah. Sedangkan peringkat tiga adalah Izzaatun Nasyiat, peringkat dua kelompok Hidayatl Ihklas, peringkat pertama Asysyuhada. Seluruh peserta terbaik baik MTQ Maulid Al Habysi akan diberikan tropy uang pembinaan, piagam dan bingkisan dari panitia . (Wawan)

Mantan Kabag Humas Drs M Thaher Janji Akan Berikan Penjelasan

detikriau.worldpress.com (TEMBILAHAN)  – Mantan Kabag Humas Setdakab Inhil Drs M Thaher yang sekarang menjabat sebagai Kadis Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo), berjanji akan memberikan penjelasan terkait pinjaman pada PT GCM untuk  Pembuatan UHF pada Richardson Elec Singapore untuk Gemilang Televisi (GTV) Rp 353.250.000 pada tanggal 16/11/2005, serta Pembayaran  Pembuatan UHF Rp 353.267.000 yang juga melalui pinjaman dana pada PT.GCM pada tanggal 29/12/2005 tersebut.

Selain itu yang bersangkutan juga berjanji akan menjelaskan anggaran APBD yang dialokasikan dengan jumlah yang sama di Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) ditahun yang sama. Serta adanya tudingan proyek tersebut yang diduga fiktif, seperti pernyataan salah seorang anggota DPRD Inhil, yang kebetulan ikut melakuka sidak ketika itu.

“Saya masih di Pekanbaru saat ini, mengurus istri yang sedang sakit. Jadi nanti saya akan jelaskan bila kita jumpa di Tembilahan, jika bisa hari Minggu nanti saya sudah berada di Tembilahan, ” kata M Thaher, melalui SMS, Rabu, (13/7), saat kembali duhubungi Detikriau.worldpress.com.

Sebelumnya persoalan dugaan dana haram untuk Gemilang Televisi (GTV) melalui peminjaman pada PT.GCM untuk Pembuatan UHF pada Richardson Elec Singapore buat Gemilang Televisi (GTV) Rp 353.250.000 pada tanggal 16/11/2005, serta Pembayaran  Pembuatan UHF Rp 353.267.000 pada tanggal 29/12/2005 serta telah dianggarkannya proyek tersebut melalui dana APBD Inhil ditahun yang sama, kian bergulir.  Apalagi diketahui pekerjaan yang dimaksudkan diduga fiktif.

Dari data yang didapat oleh Detikriau.worldpress.com melalui hasil audit Sumber, INTERNAL LETTER. F&Inv. 01/GCM-HC/I-2006 tertanggal, 19 januari 2006, dijelaskan bahwa proyek yang berada di bagian Hubungan Masyarakat (Humas) yang ketika itu dijabat oleh Drs M Thaher adalah fiktif. Dikatakan didalam laporan tersebut bahwa anggota DPRD Inhil periode 2004-2009 pernah melakukan sidak ke GTV dan terbukti barang yang dimaksud tidak ada pada tempatnya.

Saat Detikriau.worldpress.com menelusuri kebeberapa anggota dewan, salah seorang anggota dewan yang tidak mau namanya disebutkan namanya pada periode yang dimaksud  membenarkan data yang didapat.  Bahkan dengan terang-terangnan ia mengatakan bahwa barang yang dimaksud ternyata dialihkan untuk Indra Televisi, miliknya Bupati Inhil sekarang yang pernah mengudara beberapa saat di Pekanbaru.

“Barang tersebut tidak ada pada saat kami melakukan sidak ke GTV. Dari Informasi yang didapat, katanya UHF yang dimaksud di alihkan kepada Indra Telivisi milik Bupati Inhil yang ada di Pekanbaru,” kata sumber tersebut yang meminta agar namanya tidak disebutkan kepada Detikriau.worldpress.com, Senin, (11/7).

Sementara itu romur yang terus berkembang belakangan ini Pembuatan UHF pada Richardson Elec Singapore memang ada. Tapi bukan diperuntukan untuk GTV, melainkan untuk Indra Televisi miliknya Bupati Inhil DR Indra Muchlis Adnan, Televisi lokal yang sebelumnya pernah tayang beberapa saat di ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru.

Selain itu dari romur tersebut, pembelian alat yang dimaksud bukan menggunakan dana baik yang dialokasikan melalui dana APBD Inhil pada tahun anggaran 2005 maupun dari pinjaman pada PT GCM pada tahun yang sama, melainkan dibelikan oleh salah seorang pengusaha Inhil yang kebetulan pada saat ini berteman dengan Bupati Inhil. Kondisi itu makin mengindikasikan sinyalemen perampokan uang rakyat sebesar 1.4 milyar lebih dilakukan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. (suf)

JPU HADIRKAN TIGA SAKSI PIHAK POLISI

Salah seorang saksi dari pihak Polres Inhil saat memberikan kesaksian di PN Tembilahan

Terkait Kasus Dugaan Penganiayaan Petrus

detikriau.worldpress.com (Tembilahan) –Pengadilan Negri (PN) Tembilahan kembali melanjutkan sidang perkara dugaan penganiayaan yang dilakukan anggota Dishubkominfo Inhil, Eri Satriawan dan Adi Chandra terhadap seorang anggota Polres Inhil, Petrus Oktavianus saat pertandingan Futsal Paskem Cup. Kesaksian Adha N Nasution dari pihak kepolisian yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) disanggah oleh kedua terdakwa.

Dalam kesaksiannya, saksi Adha menuturkan bahwa dirinya melihat secara langsung kejadian yang diawali dari perebutan bola antara terdakwa Eri Satriawan dan Petrus Oktavianus yang menyebabkan mereka berdua terjatuh dan Eri berada diposisi bawah terhimpit Petrus.

Begitu bangun, Saksi menuturkan bahwa Eri langsung melayangkan pukulan ke wajah Petrus yang saat itu masih dalam keadaan terduduk. Pukulan ini menurut saksi sama sekali tidak dibalas oleh Petrus. Kemudian saksi juga menuturkan Adi Chandra ikut melakukan penyerangan.

Bahkan menurutnya, Setelah dilerai dan Petrus dibawa ke gawang kubu polres, Adi Chandra terus melakukan penyerangan brutal kearah korban.

“Saya melihat dengan jelas walau saat itu korban sudah kita bawa ke gawang tim polres, terdakwa Adi masih berusaha menyerang dengan brutal.” Terang Adha sambil menunjuk terdakwa Adi Chandra yang dalam persidangan kali ini mengenakan pakaian melayu berwana biru.

Dalam kesempatan ini, Ketua Majelis Hakim juga sempat mempertanyakan apakah saksi mengetahui bahwa selama pertandingan wasit ada mengeluarkan kartu kuning?. Saksi membenarkan namun dirinya mengaku tidak ingat untuk tim mana dan siapa orangnya yang menerima kartu kuning tersebut. Jawaban ini sempat mendapat lontaran kalimat heran dari majelis hakim. Karena menurut mereka, biasanya kalu seseorang menonton pertandingan tentu ingat apa-apa yang terjadi dalam pertandingan itu.

“Saudara saya ingatkan kembali bahwa saudara bersaksi dibawah sumpah. Saya tau korban adalah teman saudara tapi tolong anda bicara sejujur-jujurnya dan menyingkirkan semua ikatan itu agar kita dapat menarik kebenaran dalam mengambil keputusan dalam perkara ini secara adil. Saudara mengaku menyaksikan pertandingan ini sampai akhir dan saudara juga mengaku ingat peristiwa yang terjadi saat itu tapi saudara malah tidak mengetahui siapa yang mendapat kartu kuning saat pertandingan tersebut” Ungkap salah seorang hakim anggota dengan mimik wajah heran.

Namun keheranan majelis hakim ini tetap dipertegas saksi bahwa dirinya tidak ingat tentang itu.

“Terserah andalah, karena anda dibawah sumpah dan anda nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas kesaksian saudara. Semua ini akan kita jadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan” Ujar hakim mengingatkan.

Hakim juga sempat mempertanyakan apakah saat itu setelah terjadinya perkelahian sempat diadakan perdamaian, saksi menjawab tidak.

Dalam memberikan kesaksian saksi terkesan tidak mematuhi aturan, Hakim Ketua sempat menegur saksi.

“Saya yang memimpin sidang. Saya minta anda jawab apa yang saya tanyakan saja. Jangan malah menimbulkan kesan persidangan ini bagaikan debat kusir,” Ungkap Hakim ketua dengan wajah sedikit memerah.

Kuasa hukum kedua terdakwa, DP Agus Rosita yang diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada saksi mempertanyakan pengertian kata brutal yang dilontarkan saksi atas tindakan Adi Chandra.

Mendapat pertanyaan ini, saksi menyatakan meralat kesaksian sebelumnya. Menurutnya, yang brutal bukan hanya Adi karena waktu itu juga banyak dari oknum dishubkominfo yang melakukan pemukulan. Namun dirinya tidak ingat secara pasti siapa orangnya.

Terdakwa Ery Satriawan yang diberikan kesempatan oleh majelis hakim untuk menyampaikan  sanggahan atas kesaksian Adha menuturkan kesaksian saksi banyak yang tidak benar.

“Awal kejadian, saya dengan petrus bukan sedang berebut bola. Saat itu, bola yang awalnya memang berada di kaki saya sudah saya oper ke rekan lain dan kemudian petrus membody saya dengan keras yang berakibat kami berdua terjatuh. Begitu kami bangun terjadilah pertengkaran mulut dan kemudian dan saya akui ada memukul dirinya namun kearah pipi. Tapi saat itu juga petrus langsung membalas bukannya diam seperti penututran saksi” Jelas Ery.

Keterangan saksi yang menyatakan tidak ada perdamaian juga dibantah Ery. Menurutnya, dirinya sudah meminta maaf namun petrus tidak mengubris dan menolak permintaan maaf saya.

“Kapten Tim mereka sempat membentak petrus dan meminta agar menerima uluran tangan permintaan maaf saya. Namun saat itu petrus hanya menjabat tangan saya dengan berat hati.” Kata Ery

Adi Chandra terdakwa lainya juga membantah keterangan saksi yang menyatakan dirinya melakukan penyerangan secar brutal.

“Tidak pernah saya melakukan serangan yang disebutnya secara brutal. Yang benar, saya beberapa kali dipukul dari arah belakang dan karena merasa sakit baru saya membalas. Itupun hanya 1 kali.” Jelas Adi.

Bahkan saat itu menurut Adi, Saksi sempat melontarkan ancaman kepada Ery sambil berbicara kepada Petrus untuk melanjutkan permasalahan ini diluar lapangan.

Dua saksi lainnya dari pihak polres, Titus Harianto dan Fadil lebih banyak mengatakan tidak ingat. Termasuk saat hakim kembali mempertanyakan apakah saksi mengetahui apakah hakim ada mengeluarkan kartu kuning selama pertandingan tersebut.

Seusai mendengarkan keterangan tiga orang saksi polres yang di hadirkan pihak JPU, Sidang ditutup dan akan dilanjutkan pada Rabu (27/7) mendatang dengan agenda kembali mendengarkan keterangan 2 orang saksi dari dishubkominfo, 2 orang wasit dan 1 orang pihak panitia.(fsl)