Kami sampaikan kabar untuk anda

Bupati Irwan: Knowlege, Skill dan Attitude, tiga pilar yang menjadi kunci utama menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi

“Kontribusi Hard Skill dan Soft Skill di Dunia Kerja dengan komposisi Soft Skill lebih besar daripada Hard Skill (80:20), tidak seperti yang diterapkan sebelumnya yang lebih mengedepankan Hard Skill.

Pekanbaru, detikriau.org — Bupati Kepulauan Meranti Menjadi Nara Sumber FGD Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam rangka Penyusunan Kurikulum, Program Studi SI Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, di Hotel Grand Suka, Jumat (2/9/2020).

Dalam kegiatan itu Bupati Irwan sarankan untuk  lebih mengedepankan Knowledge, Skill dan Atitude kunci menciptakan lulusan berkompetensi.

Bupati Irwan menilai penerapan Kurikulum Merdeka yang akan diterapkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRI ini sudah sangat tepat seiring semakin meningkatnya arus globalisasi informasi dan teknologi saat ini yang menuntut semua pihak tidak lagi berfikir seperti biasa tapi harus luar biasa karena prilaku manusia terus berubah dengan cepat dari waktu kewaktu.

Dikatakan Irwan, dunia kini telah memasuki era revolusi industri 4.0  yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation sementara sistem pendidikan masih menganut pola era 2.0 untuk itu perlu di Upgrade.

“Saya kira pogram ini perlu didukung bersama seiring perkembangan arus globalisasi yang kian tak terbendung, hal ini tentunya memaksa kita untuk berfikir luar biasa agar mampu mengimbangi prilaku manusia yang berubah sangat cepat dari waktu-kewaktu,” jelas Irwan.

Dihadapan para Akademisi dan Stakeholders terkait, dalam rangka menyiapkan lulusan yang mampu survive diberbagai bidang pekerjaan, Irwan menekankan tiga pilar yang menjadi kunci utama menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi yaitu, Knowlege, Skill dan Attitude. Ketiga pilar ini harus diberikan secara seimbang tidak seperti saat ini yang hanya mengedepankan pada aspek Knowledge.

Hal itu bukannya tidak beralasan, seperti ditemui dilapangan tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang dulunya masuk kategori berprestasi justru tidak berhasil didunia kerja yang berhasil malah para pelajar dan mahasiswa yang tak terlalu berprestasi tapi kreatif dan aktif diberbagai organisasi. Artinya para pelajar dan mahasiswa yang berpotensi survive adalah yang telah terbiasa berfikir kreatif tidak hanya bisa Teks Book. 

“Orang yang kreatif dan tidak terlalu Teks Books, sudah terbiasa berfikir untuk jangka panjang dan mampu bekerjasama karena cenderung aktif dilapangan,” ujar Irwan.

Fenomena ini diakui Irwan juga ditemui di dunia birokrasi Pemda Kepulauan Meranti yang dipimpinya, dimana setiap pegawai yang memiliki Skill dan sedikit “lasak” lebih mampu survive dan menjadi Problem Solves karena mungkin sudah terbiasa berorganisasi serta terlatih kreatif.

“Mereka mampu menjadi pegawai yang bisa survive, tidak “cengeng” dan mampu bekerja dengan tekanan. Tidak seperti pegawai yang berprestasi secara akademis namun Teks Books yang akhirnya hanya mampu berfikir jangka pendek, tidak memiliki integritas, lebih materialistik bahkan cenderung kurang inovatif serta tidak mampu bekerjasama,” papar Irwan.

Oleh karena itu, penyusunan kurikulum yang tepat sangat mempengaruhi kualitas dari tiap lulusan untuk mampu survive didunia kerja, dan Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang akan diterapkan UNRI dengan menyeimbangkan Skill, Knowledge dan Atitude dinilai sudah tepat.

Selanjutnya yang perlu menjadi perhatian Kampus dalam penerapan Kurikulum agar lulusannya mampu Survive dikatakan Irwan adalah, kontribusi Hard Skill dan Soft Skill di Dunia Kerja dengan komposisi Soft Skill lebih besar daripada Hard Skill (80:20), tidak seperti yang diterapkan sebelumnya yang lebih mengedepankan Hard Skill.

“Dominasi peningkatan Hard Skill dalam sistem pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bekerja untuk memenuhi kepentingan industri (Pabrik, Perusahaan) untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun perlu disadari seiring perkembangan teknologi cepat atau lambat sektor perkerjaan yang bersifat repetitif (perulangan) seperti Teller, Akuntan dimasa depan akan tergantikan oleh Mesin,” jelas Bupati.

Untuk sekedar memberitahukan, turut hadir dalam kegiatan itu, Para Akademisi UNRI, Stakeholder, Pengguna Lulusan Sarjana diantaranya Dekan Fakultas FEB UNRI Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, SE, M.Si, Kadisdik Riau Said Syarifuddin, Komisaris Bank Riau Kepri Syahrul, Direktur Psiko Power Hj. Ola Puspita, Marketing BRI Dori Andelo, Para Kajur, Peneliti, serta perwakilan Perusahaan dan Perbankan lainnya.

Turut mendapingi Bupati Irwan, Asisten I Sekdakab. Meranti yang juga Plt. Kadisdik Syamsuddin SH MH, Kadis Perhubungan Meranti Dr. Aready, Pimpinan Wilayah Penggadaian Muhammad Nurkasan.

Kegiatan Forum Group Discussion ini sendiri sengaja digelar oleh Program Studi SI Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau dalam rangka Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Penyusunan Kurikulum, Program Studi SI Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau tentang lmplementasi Program Magang Dan Kompetensi Lulusan yang dibutuhkan oleh Pengguna lulusan dan stakeholder.

Seperti diketahui, perkembangan ilmu pengelahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini, telah membawa perubahan yang sangat pesat pula dalam berbagai aspek kehidupan. Pekerjaan dan cara bekerja, banyak lapangan pekerjaan hilang, sementara berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Perubahan ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam masa yang sangat dinamis ini, perguruan tinggi juga harus merespon secara cepat dan tepat. Diperlukan transformasi pembelajaran untuk bisa membekali dan menyiapkan lulusan Pendidikan Tinggi agar menjadi generasi yang uggul. Generasi yang tanggap dan siap menghadapi tantangan dizamannya.

Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka diharapkan dapat menjadi jawaban atas tuntutan tersebut. Kampus merdeka merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, lidak mengekang. dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.  Mahasiswa diberikan kebebasan mengambil SKS di luar program sludi.

Tiga semester yang di maksud berupa satu semester kesempatan mengambil mata kuliah di luar program studi dan dua semester melaksanakan aktivitas pembelajaran di luar perguruan tinggi. Kampus merdeka diharapkan dapat memberikan pengalaman kontekstual lapangan yang akan meningkatkan kompetensi mahasiswa secara utuh, siap kerja, atau mampu menciptakan lapangan kerja baru./*/eko

Categorised in: Kabupaten Kepulauan Meranti, Semesta Riau

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.