Kami sampaikan kabar untuk anda

Penyembelihan Hewan Qurban, Kisah Ketaatan Manusia kepada Allah

Pemotongan hewan qurban (Foto: Edwin Budiarso)

Bagi umat Islam salah satu hari yang paling penting selain Idul Fitri adalah Idul Adha. Hari itu juga sering disebut sebagai Hari Raya Haji karena pada waktu itu bertepatan dengan dilaksanakannya ibadah haji tepatnya ketika wukuf di Arafah.

Penyebutan lain yang juga muncul di tengah masyarakat ialah Hari Raya Qurban. Karena pada waktu itu pasti dilaksanakan penyembelihan hewan qurban untuk dibagikan ke masyarakat yang layak untuk menerimanya.

Asal mula qurban berawal saat lahirnya Nabi Ismail As.  Sewaktu Nabi Ismail As mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim As. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah, maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim As.

Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikaruniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan, seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyambung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban.

Namun ia sebagai seorang nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya untuk menyembelih putra tercintanya.

Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim As, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:”Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya.” Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam (niat) tetap akan menyembelih Nabi Ismail As puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya.

Dan berangkatlah Nabi Ibrahim menuju ke Mekkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan. Ibrahim As berkata pada putranya, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”

Nabi Ismail As sebagai anak yang sholeh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orangtuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-Saffat: 102).

Sontak Nabi Ibrahim kaget, karena keikhlasan anaknya untuk senantiasa menjalankan wahyu dan perintah Allah Swt. Rasa yang berat justru ada di tangan Nabi Ibrahim As. Bahkan ia selalu diganggu oleh setan agar tidak melaksanakan perintah tersebut. Godaan yang terus mencegah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As tidak berbuah hasil.

Saat penyembelihan tiba, diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah pisau tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang pisau di tangannya, kedua mata Nabi Ibrahim As yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke pisau yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah dan kewajiban seorang rasul.

Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, pisau diletakkan pada leher Nabi Ismail As dan penyembelihan di lakukan. Karena Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu. Lalu Allah menggantikan dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang besar berwarna putih.

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu.

Nabi Ibrahim As telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail As tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.

Jauh sebelumnya, persitiwa qurban juga pernah terjadi pada masa Nabi Adam As, yaitu saat Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam As. agar mengawinkan Qabil dengan saudara perempuan kembar Habil yang bernama Lubuda yang kurang cantik dan mengawinkan Habil dengan saudara perempuan kembar Qabil yang bernama Iqlima yang lebih cantik.

Pada saat itu Nabi Adam As. dilarang Allah mengawinkan perempuan kepada saudara laki-lakinya yang kembar. Namun Qabil menolak hal ini, sementara Habil menerima. Qabil ingin kawin dengan saudara perempuan kembarnya sendiri yang cantik rupa. Maka Nabi Adam As. menyuruh kedua anaknya untuk berqurban, siapa yang diterima qurbannya, itu yang menjadi suami bagi saudara perempuan kembar Qabil yang cantik.

Nabi Adam As. Berkata kepada anaknya: “Wahai anakku (Qabil dan Habil) hendaknya masing-masing di antara kalian menyerahkan qurban, maka siapa diantara kalian berdua yang qurbannya diterima Allah Swt. dialah yang berhak menikahinya (Iqlima)”.

Pada akhir kisah disebutkan, ternyata qurban yang diterima Allah Swt adalah yang didasarkan atas keihlasan dan ketaqwaan kepada-Nya, yaitu qurban Habil yang berupa seekor domba yang besar dan bagus. Sementara qurban Qabil ditolak karena dilakukan atas dasar hasud (kedengkian). Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk untuk diqurbankan. Qabil yang kalah dalam sayembara qurban akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saudaranya sendiri.

Kisah di atas, kata Wakil Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum, Ahmad Tholabi, mengandung dua makna, yang pertama bahwa kepatuhan hamba kepada Allah Swt. harus melebihi kecintaan dia terhadap dunia dan yang kedua bahwa kepatuhan seorang anak kepada orangtua juga harus melebihi apapun yang dicintai di dunia ini.

“Jadi peristiwa hisotris tersebut menunjukan bahwa ibadah qurban memang merupakan ibadah yang sudah dipraktikan sejak zaman Nabi Adam dan kemudian dilanjutkan peristiwa serupa pada era Nabi Ibrahim,” katanya

Artikel ini sudha tayang di laman muslimobsession.com “Awal Mula Qurban, Kisah Ketaatan Manusia kepada Allah”/https://muslimobsession.com/awal-mula-qurban-kisah-ketaatan-manusia-kepada-allah

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.