Kami sampaikan kabar untuk anda

EDUKASI KEUANGAN: Melihat Potensi Investasi di Koin Rp1.000 Bergambar Sawit

Kenaikan harga koin Rp1.000 bergambar kelapa sawit sampai Rp100 juta dinilai tidak wajar. Karena itu perencana keuangan meminta masyarakat berhati-hati. (iStockphoto/JumpRapper).

Jakarta,  —  Akhir-akhir ini warga net digegerkan dengan kabar penjualankoin pecahan Rp1.000 bergambar kelapa sawit seharga Rp100 juta di sejumlah marketplace. Koin keluaranBI pada 1996 itu menyulut perdebatan panjang dari soal harga pantas hingga potensi investasi.

Lalu, berapa harga sebenarnya koin berlambang kelapa sawit ini? Apa koin ini tergolong barang antik dan berapa nilai investasinya?

Perencana Keuangan Aidil Akbar menyebut sebetulnya tak ada alasan jelas yang menjustifikasikan harga penjualan uang koin pecahan Rp1.000 hingga bisa dikabarkan dihargai Rp100 juta. Karena itulah, ia menyarankan masyarakat berhati-hati dan tak ikut-ikutan mengoleksi jika tak mau buntung.

“Harga sampai Rp100 juta kan bisa saja dibikin, bohong-bohongan saja. Kalau dibilang kuno engga juga, uang kertas Rp1 keluaran 1951 saja paling mahal dijual Rp200 ribu,” katanya kepada CNNIndonesia.com pada Kamis (18/6).

Aidil mengaku tahu harga pasaran uang lawas karena dulunya memang sempat menjadi kolektor uang kertas. Menurutnya, untuk uang koin bergambar kelapa sawit yang baru berusia 24 tahun, sangat tidak masuk akal jika memiliki nilai jual selangit.

Apalagi bila dilihat jumlahnya yang relatif masih banyak di pasaran. Meski koin berukuran 26 milimeter (mm) dengan tebal 2 mm dan berat 8,6 gram ini sudah tidak dicetak BI lagi, namun bukan berarti nilainya bisa langsung melejit hingga jutaan kali lipat.

Aidil bilang harga tertinggi yang menurutnya pantas untuk koin itu adalah Rp1 juta. Itupun,  sudah terbilang fantastis.

“Koinnya sendiri memang tidak dikeluarkan lagi oleh BI. Tapi kalau value-nya naik, engga sampai ratusan juta rupiah, paling tinggi dihargai Rp1 juta,” tambahnya.

Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Lusiana Darmawan mengatakan tak semua barang bisa dikategorikan sebagai barang antik dan dijadikan instrumen investasi. Ada beberapa faktor yang membuat suatu benda dapat dijadikan aset investasi.

Yang paling mendasar, benda tersebut harus memiliki harga yang disepakati oleh pasar luas. Dalam kasus koin Rp1.000 ini Lusy menilai pasar masih belum memiliki kesepakatan harga yang bisa menjadikan koleksi uang logam ini sebagai pilihan investasi yang tepat.

Risikonya membeli di harga Rp100 juta juga mengerikan. Ia meragukan akan ada pihak lain yang mau membeli koin Rp1.000 tersebut dengan harga yang lebih tinggi. Otomatis, potensi untung (return) koleksi pun sangat minim sebab tak ada standar ukurnya.

Dalam berinvestasi, ia bilang, risikonya harus bisa diukur. Contohnya, investasi saham di pasar modal yang jelas harga jual dan belinya dan nilai saham tersebut di masyarakat.

“Risiko investasi dapat diukur. Misalnya investasi di saham. Anda bisa membatasi risiko kerugian dengan melakukan stoploss pada nilai tertentu yang Anda tentukan. Kalau barang koleksi, risikonya bisa saja Anda tidak bisa menjualnya kembali karena tidak ada pembeli atau harga jualnya jauh di bawah harga beli,” terangnya.

Selain itu, kolektor atau investor harus memiliki ilmu atau pemahaman yang mendalam akan benda tersebut. Lusy mencontohnya jual-beli lukisan mahal yang memiliki nilai seni yang hanya dipahami oleh segelintir orang saja.

Jika kolektor/investor tak benar-benar paham dengan alasan di balik dibanderolnya uang koin hingga Rp100 juta, Lusy menyarankan untuk berpikir dua kali menghabiskan uang dalam jumlah fantastis untuk barang yang belum diketahui nilai aslinya.

Selain itu, harus ada tujuan keuangan yang mendasari keputusan. Misalnya target waktu pencapaian hingga barang yang dibeli dapat menghasilkan keuntungan.

“Harus ada tujuan keuangan yang hendak dicapai serta target waktu pencapaiannya sehingga perlu dibuat perencanaan investasi,” katanya.

Untuk membantu Anda menentukan nilai atau valuasi dari instumen investasi dalam bentuk barang antik, Lusy merangkumnya dalam beberapa poin singkat.

Pertama, faktor kelangkaan. Cari tahu jika benda yang dibidik memang sudah tidak diproduksi dalam jumlah terbatas. Contohnya mobil antik yang sudah tidak diproduksi lagi.

Kedua, benda dihasilkan oleh orang/lembaga ternama. Misalnya lukisan Van Gogh.

Ketiga, pernah dimiliki oleh orang terkenal. Contohnya, pakaian yang pernah dimiliki oleh Keanu Reeves.

Lusy menyebut bisa saja barang koleksi dijadikan aset investasi tapi Anda harus paham betul valuasinya dan mengetahui tempat menjualnya atau perorangan lain yang memang mau kembali membeli dengan harga lebih tinggi.

“Jangan beli tanpa tahu harga wajar belinya berapa dan tidak tahu ada potensi pertambahan nilai, hanya ikut-ikutan, dan tidak tahu kapan dan di mana bisa menjualnya,” pungkasnya.

CNN Indonesia

Categorised in: Nasional, Tahukah Kamu ?

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.