Kami sampaikan kabar untuk anda

Fakta tentang covid-19 terhadap anak-anak

Dua anak di Beijing mengenakan pelindung diri dari botol bekas dan masker saat China mulai diserang wabah Covid-19 akhir Januari lalu./GETTY IMAGES/KEVIN FRAYER/BBC

“Pada awal Maret 2020 lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyatakan gejala COVID-19 pada anak-anak tidak fatal seperti orang dewasa. Namun belakangan, mereka merevisi pernyataan tersebut dengan menyebut bahwa gejala anak yang terinfeksi virus corona mirip dengan kondisi Multisystem Inflamatory Syndrome in Children (MIS-C)”

Di awal pandemi COVID-19, anak-anak disebut sebagai kelompok usia yang relatif tidak rentan terinfeksi virus corona. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengemukakan fakta bahwa tingkat penularan virus corona pada anak-anak di Indonesia tergolong cukup tinggi sehingga harus membuat orang tua waspada.

Berdasarkan rilis resmi IDAI pada 18 Mei 2020, tak kurang dari 584 anak dinyatakan positif mengidap COVID-19 dan 14 anak di antaranya meninggal dunia. Sementara itu, jumlah anak yang meninggal dunia dengan berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 berjumlah 129 orang dari 3.324 anak yang dinyatakan sebagai PDP tersebut.

Tingginya kasus penularan virus corona pada anak-anak di Indonesia juga dibenarkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Hingga 28 Mei 2020, total anak-anak yang terpapar COVID-19 mencapai 5 persen dari total kasus yang dilaporkan ke pemerintah.

Sejak awal pandemi, pemerintah Indonesia maupun negara-negara di dunia memang terus memperbaharui informasi seputar penularan dan dampak virus corona pada anak-anak. Berikut beberapa update yang perlu diketahui oleh orangtua.

Gejala COVID-19 pada anak-anak

Pada awal Maret 2020 lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyatakan gejala COVID-19 pada anak-anak tidak fatal seperti orang dewasa. Namun belakangan, mereka merevisi pernyataan tersebut dengan menyebut bahwa gejala anak yang terinfeksi virus corona mirip dengan kondisi Multisystem Inflamatory Syndrome in Children (MIS-C).

MIS-C adalah kondisi ketika ada bagian tubuh anak yang meradang, seperti jantung, paru-paru, ginjal, otak, kulit, mata, hingga organ pencernaan. CDC menjelaskan virus corona memang ditemukan pada anak maupun orang dewasa yang menderita MIS-C.

Gejala MIS-C sendiri mirip dengan penyakit Kawasaki sehingga di awal kemunculannya, banyak laporan medis yang menyatakan demikian. Tanda-tanda infeksi virus corona pada anak tersebut adalah:

  • Demam
  • Sakit perut hingga diare
  • Muntah
  • Sakit leher
  • Muncul ruam dan mata merah
  • Merasa sangat lelah.

Dalam kasus yang parah, anak-anak yang terserang virus corona juga dapat memperlihatkan tanda kegawatdaruratan, seperti sesak napas, sakit perut parah, dan bibir serta wajah kebiruan. Jika sudah muncul tanda-tanda ini, segera bawa Si Kecil ke rumah sakit.

Anak-anak yang terinfeksi virus corona dengan gejala MIS-C di atas bisa berujung pada komplikasi serius hingga kematian. Namun, sebagian besar anak bisa sembuh dengan pengobatan medis, terutama bila gejalanya ditemukan sejak awal.

Anjuran seputar penerapan new normal pada anak

Beberapa hari belakangan, pemerintah terus menggaungkan new normal alias tatanan kehidupan baru di tengah pandemi COVID-19. Oleh karena itu, orangtua juga harus menyiapkan anak-anak agar tetap relatif aman dari penularan virus corona.

IDAI sendiri mengungkapkan beberapa hal yang dapat dilakukan seputar new normal pada anak, yaitu:

  • Layanan dasar kesehatan anak kembali dibuka, seperti imunisasi dan intervensi dini tumbuh kembang anak
  • Orangtua disarankan tidak lagi menunda jadwal imunisasi anak
  • Kegiatan pendidikan anak usai sekolah sebaiknya tetap dilakukan di rumah dalam bentuk pembelajaran jarak jauh mengingat sulitnya pengendalian penularan virus corona pada anak-anak
  • Tetap jaga jarak fisik
  • Berikan pengertian kepada orang lain untuk membatasi kontak fisik pada anak, misalnya mencium anak
  • Tetap menjaga kesehatan dengan asupan nutrisi yang seimbang, perbanyak makan buah dan sayur, istirahat yang cukup, serta melakukan aktivitas fisik sesuai usia.

Anak tetap dapat beraktivitas di luar ruangan, misalnya di halaman rumah, dengan memerhatikan protokol kesehatan seperti sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Orangtua harus mencontohkan pola hidup bersih sebagai new normal agar anak mau melakukan hal yang sama.

Anak-anak harus memakai masker ketika hendak bepergian ke area publik, seperti klinik dokter, rumah sakit, apotek, pusat perbelanjaan, hingga sekolah. Bagi anak-anak di bawah usia 2 tahun, Akademi Pediatri Amerika (AAP) menegaskan golongan tersebut tidak disarankan menggunakan masker.

Meski new normal berarti adanya pelonggaran pembatasan sosial, diam di rumah dan menjaga jarak tetap cara terbaik untuk menghindari penularan virus corona. Anak yang sedang sakit (terutama demam, batuk, pilek, diare, dan sesak napas) harus tetap di rumah.

SEHATQ

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.