Kami sampaikan kabar untuk anda

Imbau penggunaan masker, KODIM 0314 Inhil lakukan melalui puisi rakyat  khas suku banjar “MADIHIN”

Foto: screenshot laman youtube

Tembilahan, detikriau.org – Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan masker menghindari terjangkiti virus corona dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satu upaya yang sangat menarik, digagas Tim Gugus tugas covid-19 Inhil dari unsur KODIM 0314. Imbauan disampaikan dengan pendekatan senibudaya daerah masyarakat banjar “Madihin”.

Ide kreatif ini mendapat respon positif masyarakat.

Untuk sekedar diketahui, puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini merupakan seni budaya dikalangan etnis Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan.

Dikutip melalui blog dewiafrilina, Di Ibu Kota Kabupaten Indragiri Hilir, Tembilahan memiliki berbagai suku dan etnis. Salah satunya yang terbesar merupakan suku Banjar, bahkan penyebaran suku banjar di kabupaten Indragiri Hilir tidak terkhusus hanya di kota Tembilahan saja, tetapi juga tersebar hampir keseluruh daerah di Indragiri Hilir.

Pengurus Kerukunan Keluarga Banjar (KKB) Tembilahan Riau Madi, mengatakan tentang budaya Banjar di perantauan, bahwa suasana yang ada di Tembilahan tak ubahnya seperti di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kota Tembilahan, Inhil, Riau sangat dikenal oleh orang Banjar di Kalsel. Sebagai tempat berdiam sejak ratusan tahun  lalu. Banyak warga Banjar sudah tinggal di tempat tersebut secara turun temurun dalam beberapa generasi.

Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari pekanbaru sebagai ibukota provinsi Riau selama kurang lebih tujuh jam perjalanan.

Kondisi alam Riau, khusunya Kabupaten Inhil tidak jauh berbeda dengan alam Kalsel. Kondisi inilah yang memungkinkan orang-orang Banjar yang madam (pergi merantau) ke Tambilahan merasa betah bertani dan berkebun di sana.

Warga Banjar atau keturunan suku Banjar Kalsel kebanyakan bermukim di Kecamatan Tembilahan, Tampuling, Enok, Batang Tuaka, Gaung Anak Serka, Gaung, Tanah Merah serta Kuala Indragiri.

Dari delapan kecamatan yang dihuni warga suku Banjar tersebut, dalam berkomunikasi pada kehidupan sehari-harinya mereka  menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa harian yang cenderung dengan dialek Pahuluan. Uniknya, penduduk suku lainnya seperti Bugis, Jawa dan Cina yang ada di daerah tersebut juga sangat familiar berkomunikasi menggunakan Bahasa Banjar.

reporter: Syahrul Badrin    Editor: Fsl

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.