Kami sampaikan kabar untuk anda

Alert! Tekan China, AS Kirim Bomber ke Laut China Selatan

Foto: Pesawat Tempur f-16 (Aldo Bidini via Wikipedia)

Jakarta – Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan militer terhadap China di tengah meningkatnya ketegangan antar kedua negara di Laut China Selatan.

Negeri Paman Sam juga menuduh China berupaya memanfaatkan pandemi virus corona (COVID-19) untuk memperluas lingkup pengaruhnya di kawasan itu.

Selama beberapa minggu terakhir kapal-kapal Angkatan Laut AS dan kapal pembom Angkatan Udara B-1 telah melakukan misi di kawasan yang menjadi rebutan banyak negara itu.

Pada Rabu (13/5/2020), Armada Pasifik Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa semua kapal selamnya di wilayah tersebut berada di laut melakukan operasi untuk mendukung kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka di tengah-tengah pandemi COVID-19

Angkatan Udara AS juga terus mengirimkan pesawat pembom ke wilayah tersebut.

Berbagai kegiatan AS itu disebut bertujuan untuk mengirimkan pesan bahwa militer AS bermaksud untuk mempertahankan kehadiran di wilayah Laut China Selatan dan meyakinkan sekutunya.

“Republik Rakyat China berusaha menggunakan fokus regional pada COVID-19 untuk secara tegas memajukan kepentingannya sendiri,” kata Kapten Angkatan Laut AS dan Juru Bicara Komando Indo-Pasifik militer AS Michael Kafka, kepada CNN International dalam sebuah pernyataan, Rabu.

Selain Kafka, komandan komando Global Strike Air Force Jenderal Timothy Ray, mengatakan militer AS masih sangat siap untuk merespons tindakan China. Global Strike Air Force bertugas mengawasi pasukan bomber di Laut China Selatan.

“Kami memiliki kemampuan dan kapasitas untuk memberikan tembakan jarak jauh di mana saja, kapan saja dan dapat membawa daya tembak yang luar biasa – bahkan selama pandemi,” kata Ray.

Sebagai tanggapan atas kehadiran AS, China juga telah memperkuat kehadirannya di kawasan. Militer negara itu telah kerap kali terlihat berpatroli di kawasan dan terus melakukan pembangunan, untuk menegaskan klaimnya atas wilayah yang didudukinya.

China juga secara rutin memprotes kegiatan Angkatan Laut AS di wilayah tersebut, dan sering mengirim kapal atau pesawat terbang untuk membayangi kapal AS.

Bahkan, citra satelit telah menangkap gambar pesawat milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLANAF) China mendarat di salah satu pulau buatannya di Laut China Selatan. Pesawat itu mendarat di Fiery Cross Reef, sebuah wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan.

Menurut Jane’s International, sebuah kelompok intelijen pertahanan, penampakan itu bisa menjadi pertanda lebih lanjut bahwa Angkatan Udara dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mulai menggunakan pulau itu sebagai basis operasi.

Melihat peningkatan aktivitas China di kawasan, juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Dave Eastburn mengatakan bahwa apa yang dilakukan China merupakan hal yang memprihatinkan. Apalagi hal itu dilakukan di tengah ramainya wabah COVID-19.

“Kami prihatin dengan meningkatnya, aktivitas oportunistik oleh Republik Rakyat China untuk memaksa negara-negara tetangganya dan menekan klaim maritimnya yang melanggar hukum di Laut China Selatan, sementara kawasan dan dunia berfokus pada penanganan pandemi COVID-19,” kata Eastburn.

Wilayah Laut China selatan merupakan lokasi strategis yang krusial, yang menjadi rumah bagi beberapa rute pengiriman tersibuk di dunia. Wilayah ini juga diyakini memiliki cadangan sumber daya alam seperti minyak dan gas yang melimpah.

Kawasan ini telah diperebutkan oleh banyak negara, termasuk China, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Taiwan.

China Bangun Pulau Reklamasi

Meski menjadi rebutan banyak negara, China telah membangun pos-pos di pulau-pulau buatan manusia (reklamasi) di daerah tersebut. China juga membangun fasilitas militer dan rudal di sana sebagai bagian dari upaya untuk melakukan kontrol atas jalur air strategis.

Apa yang dilakukan China ini lah yang memicu kehadiran AS di kawasan. AS menyebut kehadirannya di Laut China Selatan untuk memastikan keamanan kawasan. AS juga menganggap China telah menyalahi hukum internasional dan karenanya tidak bisa membiarkan hal tersebut.

“Kami terus melaksanakan program operasi Kebebasan Navigasi global di mana Angkatan Laut AS berlayar dengan aman dan profesional menentang klaim maritim yang berlebihan, termasuk yang ada di Laut China Selatan,” kata Kafka.

“Kami juga melakukan transit rutin melalui Selat Taiwan untuk lebih menunjukkan bahwa Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi di mana saja yang diizinkan oleh hukum internasional.”

CNBC Indonesia

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.