Kami sampaikan kabar untuk anda

Seperti apa pengurusan jenazah korban covid-19 sesuai Fatwa MUI ?

Tembilahan, detikriau.org – Juru bicara gugus tugas covid-19 Inhil Trio Beni Putra menegaskan bahwa penanganan jenazah pasien berstatus PDP yang meninggal dunia di RSUD Puri Husada Tembilahan diberlakukan sesuai dengan Fatwa MUI No 18 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang terinfeksi covid-19.

‘Meski hasil pemeriksaa swab pasien belum keluar, namun perlakuan terhadap jenazah pasien berstatus PDP yang sebelumnya dinyatakan “reaktif” berdasarkan pemeriksaan rapid tes, tetap kita berlakukan sesuai Fatwa MUI No 18 Tahun 2020,” Disampaikan Trio melalui sambunga telepon, Kamis

Lantas seperti apakah penanganan jenazah sesuai dengan fatwa MUI ini?

Melansir melalui mui.or.id dijelaskan bahwa fatwa MUI No 18 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana’iz) Muslim yang terinfeksi covid-19 itu dirincikan dalam 5 point. Yakni;

Pertama. menegaskan kembali ketentuan fatwa MUI no 14 tahun 2020 angka 7 yang menetapkan: pengurusan jenazah yang terpapar covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakuan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar covid-19

Kedua. Pedoman memandikan jenazah yang yang terpapar covid-19 dilakukan sebagai berikut:

  1. jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya
  2. petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani
  3. jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelain yang sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jeazah dimandikan tetap memakai pakaian. jika tidak, maka ditayamumkan.
  4. petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan.
  5. petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata keseluruh tubuh.
  6. jika atas pertimban ahli yang terpecaya bahwa jenazah tidak mungkin diamndikan, maka dapat diganti dengan cara tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara;

6.1. mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu

6.2. Untuk kepentingan perlindungan diri saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.

7. jika menurut pendapat ahli yang terpecaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan           darurat syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan dan ditayamumkan.

Ketiga. Pedoman mengafani jenazahdilakukan sebagai berikut;

  1. setelah jenazah dimandikan atau ditayamumkan, atau karena dlarurat syar’iyyah tidak dimandikan atau ditayamumkan, maka jenazah dikafani dengan menggunakan kain yangmenutup seluruh tubuh dan dimasukkan kedalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk emncegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas.
  2. setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga sat dikuburjan jenazah menghadap kea rah kiblat.
  3. jika setelah dikafani masih ditemukan najiz pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najiz tersebut.

Keempat. Pedoman menyalatkan jenazah;

  1. disunahkan menyegerakan shalat jenazah setelah dikafani.
  2. dilakukan ditempat yang aman dari penularan covid-19
  3. dilakukan oleh umat islam xecara langsung (hadhir) minimal satu orang. jika tidak mungkin, boleh dishalatkan dikuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. jika tidak memungkinkan, maka boleh dihalatkan dari jauh (shalat ghaib)
  4. pihak yang menyalatkan wajib mejaga diri dari penularan covid-19.

Kelima. Pedoman menguburkan jenazah;

  1. dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis.
  2. dilaukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya kedalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.
  3. penguburan beberapa jenazah dalams atu liang kubur diperbolehkan karena dharurat (al-dlarurah al-syar’iyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan fatwa mui nomor 34 tahun 2004 tebtang pengurusan jenazah (Tajhiz al-jana’iz) dalam keadaan darurat.

Reporter: faisal

 

Categorised in: Inhil, Tahukah Kamu ?

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.