Kami sampaikan kabar untuk anda

Makin Bengkak, Total Polis Jatuh Tempo Jiwasraya 2020 Rp 16 T

reporter: CNBC

Jakarta – PT Asuransi Jiwasraya (Persero) memiliki kewajiban jatuh tempo polis produk JS Saving Plan pada Oktober-Desember tahun lalu sebesar Rp 12,4 triliun. Untuk tahun 2020 ini, kebutuhan likuiditas penyelesaian JS Saving Plan diketahui nilainya sebesar Rp 3,7 triliun.

Dengan demikian total kebutuhan likuiditas penyelesaian JS Saving Plan dalam waktu dekat mencapai Rp 16,13 triliun. Besaran dana tersebut terungkap dalam Dokumen Penyelamatan Jiwasraya yang diperoleh CNBC Indonesia belum lama ini.

Berdasarkan dokumen tersebut, juga terungkap kinerja terakhir perusahaan asuransi yang berdiri sejak 31 Desember 1859 dengan nama Nederlandsch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij van 1859 ini.

Total aset Jiwasraya per September 2019 mencapai Rp 25,68 triliun, sementara total kewajiban mencapai Rp 49,60 triliun.

Rincian Total Aset Jiwasraya per September 2019

Ikhtisar Per September 2019 (Rp T)
Aset Reasuransi 0,68
Aset Lancar 0,53
Aset Tetap 1,96
Aset Lainnya 0,33
Aset Investasi 22,17
Total Aset 25,68


Rincian Total Liabilitas Jiwasraya per September 2019

Ikhtisar Per September 2019 (Rp T)
LMPMD-UL 0,53
Utang Klaim 9,99
LMPMD Non UL 3,87
PYBMP 0,05
Liabilitas Lainnya 3,87
Total Liabilitas 49,60

Ket: LMPMD (Liabilitas Manfaat Polis Masa Depan, UL (Unit link), PYBMP (Premi yang Belum Merupakan Pendapatan).

Khusus pos utang klaim di tabel nomor dua di atas, disebutkan bahwa angka Rp 9,9 triliun adalah utang klaim Saving Plan dan produk lainnya.

Adapun terjadi ekuitas negatif sebesar Rp 20,2 triliun dan rasio kecukupan modal atau risk based capital(RBC) Jiwasraya minus hingga 664,4% per Juni 2019. Namun pada September 2019, ekuitas negatif membengkak lagi menjadi Rp 23,92 triliun.

Padahal berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bahwa modal minimum (RBC) yang harus dipenuhi oleh perusahaan asuransi baik umum atau jiwa adalah 120%.

RBC adalah rasio solvabilitas yang menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan asuransi. Jika RBC kian besar, semakin sehat pula kondisi finansialnya.

Dokumen itu menyebutkan, untuk meningkatkan nilai RBC sampai 120%, maka jumlah dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 32,89 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari kebutuhan pemenuhan RBC sebesar Rp 2,89 triliun dan adanya total ekuitas setelah terjadi impairment assetyakni sebesar Rp 30,13 triliun. Impairment assetadalah penurunan nilai aset karena nilai tercatat aset (carrying amount) melebihi nilai yang akan dipulihkan.

Erick Tegaskan Pemerintah Tak Akan ‘Lari’

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan terkait dengan dana nasabah Jiwasraya ini, ada tahapan yang mesti dilalui dan sudah disiapkan skemanya. Pemerintah saat ini juga tidak melarikan diri kendati kasus yang mendera Jiwasraya ini sudah terjadi sejak tahun 2006.

Pada Oktober-Desember 2019, jumlah polis jatuh tempo yang harus dibayar Jiwasraya mencapai Rp 12,4 triliun atas produk JS Saving Plan, produk bancassuranceyang dirilis perusahaan asuransi BUMN ini.

“[Pemerintah memastikan dana nasabah Jiwasraya balik?] Kanada step-nya, pembentukan holdingitu nanti akan ada cash flowRp 1,5 triliun, kita bisa cicil ke depan. Juga nanti ada aset saham yang mungkin bisa dilepas itu bisa. Jadi kita coba,” kata Erick di Jakarta, Kamis pekan lalu (9/1/2020).

“Kalau kita ini sedang bilang investasi tetapi di lain pihak kepercayaannya [investor] menurun. Kita tahu pertumbuhan ekonomi tinggi. Tapi pengelolaan GCG [tata kelola perusahaan] tidak ada. Gimana publik bisa percaya, gimana bursa bisa melemah. Kemarin bursa melemah karena orang enggak ada yang percaya, akhirnya invest lagi di tempat lain. Karena itu kita memastikan ini berjalan dengan baik.”

Erick menegaskan pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN memiliki beberapa tahapan guna memastikan kepentingan nasabah.

“Dijelaskan bagaimana stepBUMN untuk memastikan nasabah punya kepastian. Kita enggak mau dianggap BUMN melarikan diri walaupun [kasus ini mulai] tahun 2006,” katanya.

Pendiri Mahaka Media ini mengatakan apa yang terjadi dulu dengan kasus Jiwasraya dan kemudian berlanjut pada saat ini tak akan membuat pemerintah diam. “Pemerintah selalu mencarikan solusi pasti di bawah pemerintahan Jokowi, tentu kebetulan kami yang sedang coba bekerjasama memberikan solusi. Jadi bukan lempar problem. Kita harus menjadi solusi maker,” tegasnya.

Ketika ditanya aset apalagi yang bisa diupayakan mengembalikan dana nasabah, Erick mengatakan pihaknya sudah menyampaikan bahwa ada mekanismen dan tahapan yang sudah direncanakan dan itu sudah menjadi wilayah dari direksi Jiwasraya.

Kan ada dirutnya Pak Hexana [HexanaTri Sasongko], kita support, jangan sampai dirut jadi menteri, menteri jadi dirut. Tapi kita sudah berkolaborasi, apalagi sekarang banyak direksi BUMN kredibilitasnya tinggi.”

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.