Kami sampaikan kabar untuk anda

Pelangiran “rumahnya” harimau. Suharyono: perlu ada analisa komprehensif untuk mengatasi konflik harimau dengan manusia di daerah tersebut

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Foto: wikimedia commons

Tembilahan, detikriau.org – Terus berulangnya konflik harimau dan manusia di Kecamatan Pelangiran menjadikan masyarakat resah.

Sepanjang tahun 2019 saja, berdasarkan catatan detikriau.org, tiga korban telah  kehilangan nyawa, belum lagi dua korban sebelumnya di tahun 2018 yang lalu akibat serangan harimau Sumatra yang dinamai Bonita dan akhirnya harimau betina itu berhasil ditangkap dan direlokasi dari kawasan tersebut.

Warga berharap pihak Pemerintah segera mengambil langkah tepat agar persoalan seperti ini tidak terus berulang.

Kepala Desa Sinar Danau Kecamatan Pelangiran, Rayo, kepada wartawan menyebutkan bahwa setelah kembali jatuhnya korban di tahun 2019, pemerintah Desa sudah memintakan bantuan kepada Pemerintah Daerah termasuk pihak BBKSDA.

Permintaan bantuan itu menurutnya dimaksudkan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang, dan yang jelas menyebabkan warga menjadi takut untuk beraktivitas.

“Tapi belum juga ada tindakan, kamis (24/10), harimau kembali memakan korban. Semoga saja ada tindakan cepat dan tepat,” Pintanya.

Mengutip dari Antara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono dalam pernyataan pers di Pekanbaru, Jumat, mengatakan perlu ada analisa komprehensif untuk mengatasi konflik harimau dengan manusia di daerah tersebut.

“Kita perlu melihatnya dari kacamata yang lebih luas karena memang itu (Pelangiran) rumah harimau,” kata Suharyono

Suharyono mengatakan pihaknya akan menganalisa apakah lokasi penyerangan ketiga korban tersebut berdekatan sehingga bisa diketahui individu harimau yang menyerang mereka. Perlu ada langkah-langkah perencanaan untuk mengatasi konflik tersebut, karena selama ini daerah tersebut memang menjadi kantong habitat harimau sumatera yakni Lanskap Kerumutan.

“Lanskap Kerumutan memang salah satu kantong harimau di Riau,” ujarnya.

Namun, untuk kasus pada tahun ini BBKSDA Riau menyatakan tidak akan melakukan evakuasi terhadap harimau di Lanskap Kerumutan. Dibutuhkan solusi yang bisa menyeimbangkan keberadaan harimau dihabitatnya, dan aktivitas manusia yang membuat permukiman dan perkebunan di kawasan itu.

“Tidak bijak kalau langsung evakuasi (harimau). Kita harus lihat dari kacamata yang lebih luas karena memang itu rumah harimau. Kemungkinan solusi ke depan harus lihat lebih bijak bagaimana harimau-harimau di wilayah tersebut,” ujar Suharyono.

laporan: faisal

 

 

 

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.