Kami sampaikan kabar untuk anda

Ngeri! Bank Dunia Ramal Ekonomi RI 2020 Tumbuh di Bawah 5%

Reporter : CNBC Indonesia

Foto: World Bank (Reuters)

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara mengagetkan diramal tumbuh di bawah 5%. Ramalan ini dikeluarkan oleh Bank Dunia (The World Bank).

Dalam laporan Global Economic Risks and Implications for Indonesia yang dirilis Bank Dunia, September 2019, dijelaskan bahwa perlambatan ekonomi menimbulkan pengaruh terhadap Indonesia.

Di Amerika Serikat (AS) sudah mulai terlihat tanda resesi di pasar surat utang negara. Kemudian di Eropa mesin pertumbuhan melambat, sedangkan di China terjadi pelemahan.

“Perang dagang China-AS bisa saja menimbulkan krisis,” tulis Bank Dunia.

Bank Dunia mengungkapkan, pertumbuhan di Indonesia sudah menunjukkan perlambatan dan bakal melemah lebih dalam di tengah perlambatan global. “Resesi global bisa melukai Indonesia,” tulis Bank Dunia.

Bank Dunia meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih turun lebih dalam, karena lemahnya produktivitas dan pertumbuhan pekerja.

Dalam presentasinya, Bank Dunia memaparkan pertumbuhan ekonomi di 2020 akan berada di 4,9% dan terus menurun hingga 4,6% di 2022.

Kenapa Bisa Koreksi?

Pada masa resesi global pada 2009, ketika pertumbuhan dunia turun hingga 6,2 persentase poin, harga komoditas anjlok dan ekonomi Indonesia terkoreksi sebesar 1,7 persentase poin.

“Adanya risiko global tersebut akan berdampak pada adanya aliran dana keluar dari Indonesia karena penyakit kronis yang masih menghantui yaitu CAD [Current Account Deficit/Defisit Transaksi Berjalan],” jelas Bank Dunia. World Bank memperkirakan CAD Indonesia setiap tahun berada di angka US$ 33 miliar.

Dalam skenario normal saja, Indonesia masih membutuhkan setidaknya US$ 16 miliar lagi untuk menutup celahnya. Hal itu disebabkan karena rata-rata aliran dana masuk melalui penanaman modal asing (PMA) per tahun hanya 22 miliar dolar belum lagi dikurangi aliran dana keluar akibat aktivitas investasi sebesar 5 miliar dolar per tahun.

Apabila skenario yang terburuk terjadi, yaitu capital outflows, maka Indonesia akan membutuhkan lebih banyak aliran dana masuk untuk menambal kebocoran CAD tersebut.

“Solusinya bukan dengan menurunkan CAD, melainkan dengan meningkatkan penanaman modal asing (PMA)” terang Bank Dunia.

Masalahnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, PMA tidak tumbuh agresif di Indonesia. Aliran dana PMA mengalir deras ke Kamboja dan Vietnam. Bank Dunia menyebutkan, rata-rata arus masuk PMA ke Kamboja dalam skala 5 tahunan berada di angka 11,8%. Pada periode yang sama, aliran masuk ke Vietnam sebesar 5,9%, Malaysia di angka 3,5%, Filipina berada di kisaran 2,6%, Indonesia 1,9% dan terakhir Thailand di angka 1,7%.

Bank Dunia juga menyebutkan, aliran PMA yang deras ke Vietnam merupakan salah satu keberhasilan dari reformasi dalam kebijakan investasinya. Untuk dapat mengundang investor asing, Indonesia masih memiliki PR untuk membenahi iklim investasinya menjadi lebih terbuka, payung hukum yang jelas dan sesuai dengan arahan dan kebijakan presiden.

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan detikriau.org dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. detikriau.org berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.