Tajam, Dipercaya, Independent

Nelayan di Wilayah Ini Diminta tak Melaut Sementara

Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) nelayan dan masyarakat pesisir Barat Sumatra, Selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak melaut sementara. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah tersebut diprediksi akan mengalami cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Agus Purnomo meminta nelayan mewaspadai kondisi tersebut. “Nelayan tidak memaksakan diri melaut serta tetap waspada dan siaga dalam melakukan aktivitas pelayaran,” kata Agus di Jakarta, Ahad (5/8).

Dia menjelaskan BMKG melihat adanya pola tekanan tinggi di wilayah perairan Barat Australia. Tekanan tersebut dapat memicu terjadinya peningkatan kecepatan angin Timuran dengan kecepatan 55 kilometer perjam melewati Samudra Hindia Barat, Lampung hingga Selatan Jawa, Perairan Selatan Banten, dan Jawa Barat.

Untuk itu, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Junaidi meminta¬† masyarakat pesisir dan nelayan perlu mematuhi imbauan tersebut. “Perlu diperhatikan dampak cuaca ekstrem dan gelombang tinggi terhadap keselamatan pelayaran,” ujar Junaidi.

Menurut prediksi BMKG, gelombang tinggi akan terjadi di Perairan Sabang, Perairan Barat Aceh, Selat Sunda bagian selatan, perairan Selatan Piulau Sumba, Pulau Sawu, Pulau Rote, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, dan perairan selatan Kupang. Pada wilayah tersebut, diperkirakan terjadi potensi tinggi gelombang 2,5 hingga empat meter.

Sementara itu, gelombang tinggi mencapai empat sampai enam meter berpotensi terjadi di perairan Kepulauan Mentawai, Perairan Enggano Bengkulu, Barat Lampung, Selatan Banten Jawa Timur, Selatan Bali hingga Sumbawa. Begitu juga dengan Selat Bali, Lombok, Alas bagian selatan, Samudera Hindia Barat Mentawai, dan Selatan Pulau Sumbawa.

Selain itu, gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter juga berpotensi terjadi di Selat Malaka bagian Utara, Perairan Timur Pulau Simeulue Kepulauan Mentawai, Selat Sunda bagian Utara, Laut Timor, perairan Selatan Flores, dan Selat Ombai. Begitu juga di Laut Natuna Utara, Kepulauan Anambas, Pulau Bintan, perairan utara Bangka Belitung, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar, perairan Kotabaru, Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe, Laut Maluku bagian Utara, perairan utara Halmahera, dan Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua Barat.

sumber: republika.co.id

Iklan

"Pengutipan berita harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan menuntut sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta"

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s