Tajam, Dipercaya, Independent

Apakah Benar Jagung Manis Beracun ?

Tembilahan, detikriau.org – Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Adil Basuki Ahza meyakini 90 persen pesan berantai Pangan Rekayasa Genetik (PRG) tidak benar.

Menurut Adil, sebagaimana dikutip melalui liputan6.com, sebelum dilepas kepasar varietas PRG harus melalui serangkaian pengujian. Mulai dari tes struktur, toksisitas, uji kepada hewan, dilepaskan ke kelompok terbatas, baru kemudian dipasarkan.

“Menurut saya pesan tersebut 90 persen tidak benar ya. Pertama-tama definisi beracun itu apa? Sekarang lihat saja padi yang disemprot pestisida. Apakah itu sudah pasti bebas racun? (Penggunaan kata) racun harus didefinisikan dahulu apa,” kata Adil.

Misalnya ingin menghasilkan bahan pangan yang tahan dari serangan hama. Pertama-tama dilakukan uji apakah benar bisa tahan dari serangan hama penyakit. Lalu tingkat kadar senyawa yang menimbulkan reaksi naik atau tidak. Lalu dicek toksisitas apakah muncul senyawa beracun. Kemudian dilakukan pengujian pada hewan dahulu. Lalu, disebarkan secara terbatas, baru kemudian dirilis secara internasional seperti dicontohkan Adil.

“Sebelum sebuah produk atau varietas PRG dilepas ke masyarakat itu kompleks. Tidak sembarang seseorang melepas sebuah varietas,” tutur Adil saat dihubungi dalam sambungan telepon oleh liputan6.com pada Senin (29/8/2016).

Ketika sebuah varietas sudah dilepas ke masyarakat, Komisi Keamanan Pangan dari Kementerian Pertanian akan melakukan penelitian dan pengujian di lapangan. Sehingga petani tidak bisa sembarangan menanam jagung atau kedelai PRG.

“Jadi masyarakat tenang-tenang saja. Tak perlu gelisah. Pasti pemerintah sudah lakukan pengujian,” kata Adil.

Faktanya lagi sebagian produk jagung, kedelai, dan beras impor merupakan hasil PRG.

“Suka atau tidak suka kita pasti akan makan makanan yang dimodifikasi genetik untuk mengejar pertambahan manusia,” lanjut pria yang juga aktif di Lab Rekayasa Proses Pangan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

Lalu mengenai konsumsi PRG bisa memicu tumor, Adil pun tak setuju. Kembali lagi, sebelum varietas PRG dijual ke masyarakat pasti sudah melalui aneka tes. Ketika produk tersebut aman baru diperkenankan dijual.

Jika tidak ada PRG lalu menggunakan proses produksi pangan secara alamiah cenderung hasilnya tidak stabil. Hal ini malah membuat kebutuhan manusia yang begitu besar jadi tidak terpenuhi.

Isu Lama

Sementara itu Tejo Wahyu Jatmiko dari Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera mengungkap inti pesan broadcast ini sebenarnya sudah didengungkan sejak 16 tahun lalu.

“Pernyataan dari US (Amerika Serikat) itu hanya menegaskan peringatan kami sejak 16 tahun lalu. Kami sudah memprotes karena ketidakcukupan kajian ilmiah dan keamanan pangan,” kata Tejo dalam singkat.

Menurut Tejo, selama ini pemerintah Indonesia menganggap produk-produk PGR dari luar negeri itu aman karena dianggap memiliki substansi yang sama. Sehingga tidak ada kewajiban pengujian terhadap varietas PRG. Di luar negeri, tepatnya profesor asal Prancis–Serralini–sudah melakukan kajian terbaru dengan pendekatan pada sisi keamanan PRG.

“Jadi karena dianggap secara substansi sama maka dinyatakan aman. Meski belum dilakukan pengujian keamanan pangannya. Itulah yang ditentang kawan-kawan pecinta lingkungan,” kata Tejo./liputan6.com/dro

Tagged as: ,

"Pengutipan berita harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan menuntut sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta"

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s