Tajam, Dipercaya, Independent

Teknik Baru Mencangkok Jambu Air

“Mencangkok jambu madu dengan media air keberhasilannya 100 %.”

Jambu air citra

Jambu air citra

Itu yang dilakukan zainul Aziz, pehobi tanaman buah di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.  Zainul dan rekan sesame pehobi mencangkok jambu air deli hijau dengan menyayat batang lalu merendam dalam air.  Dalam 3 – 4 pekan, ujung batang yang terendam menumbuhkan akar dan 1 bulan kemudian hasil cangkokan siap dipanen.  Idenya berasal dari obrolan iseng di kebun seorang pehobi.

Zainul mencangkok dengan media air di pohon jambu air deli hijau berumur 3 tahun miliknya.  Ternyata tanaman Syzygium samarangense menumbuhkan banyak bintil akar.  Sudah begitu, keberhasilan tumbuh bibit 100%.  Zainul beberapa kali mencoba san selalu berhasil.  Pencangkokan dengan media air membutuhkan waktu 1,5 – 2 bulan hingga siap panen, sama seperti pada cangkok biasa.

Gunakan Cabang Sehat

Menurut Zainul “Kelebihan mencangkok jambu dengan bermedia air mudah. Murah dan praktis”.  Bahan dan alat yang dipakai untuk mencangkok :  gelas plastik bekas atau potongan botol plastik air mineral.  “Yang penting transparan sehingga mudah mengamati keluarnya akar.  Bahannya juga dari limbah, tidak usah membeli”, tutur Zainul.

Proses pencangkokan mudah dan cepat, yang penting menggunakan pisau tajam.  Lebih baik lagi menggunakan pisau okulasi yang sangat tajam.  Zainul lalu mengiris cabang dari bawah ke atas sampai terbentuk sayatan sepanjang 5 cm.  Ujung atas irisan membagi batang tepat di tengah diameter cabang.  Siapkan gelas air mineral lalu mengisi dengan air bersih setinggi 2 cm dari dasar gelas.

Untuk memacu pertumbuhan akar, tambahkan 2 ml zat perangsang tumbuh.  Zainul mengikatkan botol ke cabang yang dicangkok agar tidak jatuh, lalu mencelupkan ujung bawah belahan cabang sepanjang 1 cm ke dalam air.

Zainul mencangkok cabang atau ranting yang sehat, ditandai warna daun hijau segar, bentuk daun normal, dan bebas hama penyakit.  “Daun sehat mudah patah jika ditekuk, sedangkan daun tidak sehat terlihat dari warna yang kurang segar dan bila ditekuk tidak mudah patah”, ujar Zainul.

Ia memilih cabang atau ranting berdiameter minimal  2 cm atau sebesar jempol.  Sejatinya semakin muda ranting semakin baik karena lebih cepat berakar.  Idealnya di bawah ranting yang dicangkok ada cabang lain untuk meletakkan wadah air.  Namun, bila tidak ada cabang pembantu, ikatkan langsung wadah ke dahan yang dicangkok.  Pencangkokan berhasil jika muncul bintil-bintil calon akar di bagian antara kulit batang dan kayu.

CANGKOKBintil-bintil itu lantas tumbuh menjadi akar.  Pada hari ke-50 – ke-60, akar terbentuk sempurna sehingga bibit siap pindah tanam ke polybag.  Potong cabang yang menyatu dengan pohon induk lalu masukkan dalam polybag 10 cm x 10 cm.  Media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan    1 : 1.  Teduhkan bibit baru itu dan siram setiap hari.  Selang sebulan, akar beradaptasi dengan media tanam dan bibit tumbuh normal.  Tandanya muncul tunas daun baru.

Pehobi itu yakin cangkok air pun bisa dilakukan secara bertingkat di cabang yang sama.  Cangkok bertingkat itu lazim dilakukan dalam proses cangkok biasa oleh para penangkar buah untuk memperbanyak bibit secara cepat. “Cangkok air cocok untuk pehobi di kota yang sulit mendapatkan tanah atau bahan organik untuk

Mudah Tumbuh

Nun di Padang, Sumatera Barat.  Jia Widodo juga selalu sukses mencangkok dengan dengan media air.  Bedanya Widodo memilih mencangkok pucuk tanaman karena lebih cepat menumbuhkan akar.  Selain itu, ia memasukkan beberapa potong arang dalam wadah.  Tujuannya menetralkan mikrob pathogen yang mungkin hinggap lantaran terbawa udara.  Untuk meningkatkan keberhasilan, Jia memangkas daun setelah cangkokan dari pohon induk.

Ia memotong dua per tiga daun dan menyisakan sepertiganya untuk mengurangi penguapan.  Selanjutnya ia menyungkup selama sebulan sampai tanaman mengeluarkan tunas.  Meski mudah dilakukan, menurut Zainul cangkok air tidak cocok untuk perbanyakan dalam jumlah missal.  Penyebabnya untuk 1 tangkai paling banyak bisa dibuat 3 cangkokan.  Lebih dari itu tangkai irisan patah karena wadah berisi air cukup berat.

Apalagi tangkai telah dikerat setengah. “Cangkok air pas untuk pehobi yang memperbanyak tanaman di halaman karena kebutuhan bibit tidak banyak,” Kata Zainul.  Menurut ahli fisiologi dan bioteknologi di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir Ni Made Amini Wendi MSc, jambu air sebenarnya sangat mudah tumbuh.

“Ibaratnya sambil ‘merem’ pun (bibit) cangkok atau stek bisa tumbuh,” Kata Armini.  Namun, Ia menyarankan untuk tidak mengisi penuh wadah dengan air. “Bila air banyak maka oksigen sangat sedikit.  Padahal akar memerlukan oksigen untuk respirasi.”  Selain itu, akar biasanya muncul di bagian cabang yang tidak terendam air.  Menurut Armini, tinggi air cukup 1-2 cm untuk menjaga kelembapan.  Persis seperti yang dilakukan Zainul Aziz.

BERBIAK DI AIR

  1. Pilih cabang jambu MDH diameter 1-2 cm.   Idealnya posisi cabang tegak
  2. Siapkan botol bekas air mineral ukuran 600 ml
  3. Sayat cabang ke atas sepanjang 3-5 cm.  Gunakan pisau tajam/pisau okulasi
  4. Selipkan potongan botol di sela-sela sayatan di cabang.  Isi dengan air setinggi 2-3 cm.  Lebih baik bila ditambah larutan ZPT dengan dosis 2 cc/l air
  5. Dalam waktu 3 pekan muncul bintil-bintil akar
  6. Setelah 1,5-2 bulan, akar telah dan cangkokan bisa dipotong.  Potongan cangkok air ditanam di wadah yang sudah diisi media tanam dan sungkup dengan plastik agar beradaptasi hingga dapat tumbuh sehat.

 

Sumber Tulisan : Syah Angkasa dalam Trubus 541 – Desember 2014/XLV

Sumber:

Set. BKP3K Prov. Kep. Babel

Penulis:

Diah Ayu Srilastika

 

Iklan

Tagged as: , , ,

"Pengutipan berita harus mencantumkan detikriau.org atau kami akan menuntut sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta"

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s